Friday, April 8, 2016

Kisah Wanita yang Tak Merindukan Surga Berlanjut

Raline siap-siap `menjadi` istri kedua lagi di sekuel SYTD / FOTO: Instagram Raline.
Entertainment-Bagus : Saat aktris Raline Shah memenangi gelar Pemeran Pendukung Wanita Terbaik dari ajang film bergengsi Indonesian Box Office Movie Awards, di pertengahan Maret 2016 lalu, produser MD pictures, Manoj Punjabi naik ke atas panggung.

Ia katakan hari itu datang mewakili Raline yang sedang berhalangan hadir. Raline sendiri, dianugerai piala kehormatan itu karena perannya yang apik sebagai Mei, sosok istri kedua yang terjerat dilema di film Surga yang Tak Dirindukan.

Di podium megah itu, Manoj mengucapkan selamat kepada Raline, dan ia meminta, wanita Medan itu bersiap-siap, karena syuting film Surga yang Tak Dirindukan 2 akan segera dimulai. 

Mendengar ucapan live di televisi itu, mungkin banyak orang akan merasa kaget. Karena tak banyak yang tahu, semenjak film pertamanya sukses di tahun 2015, sang produser film keturunan India itu langsung berniat membuat sekuel. 

Sumber dari dalam MD Pictures, Kamis, 7 April 2016 menjelaskan kepada Lifestyle-Bagus, bahwa kemungkinan besar film lanjutan ini akan tayang di akhir 2016. Ia mundur dari rencana awal sang produser, yang menargetkan bisa tayang di Lebaran 2016.

Selain Raline yang akan kembali bermain sebagai Mei, figur wanita yang dianggap menjadi penganggu rumah tangga pria alim bernama Pras, diperankan Fedi Nuril, aktris Laudya Cynthia Bella juga akan kembali menempati posisinya sebagai Arini, istri pertama Pras yang baik hati.

Poligami yang indah

Ada banyak alasan mengapa film arahan sutradara Kuntz Agus ini menuai kesuksesan besar, bahkan karcis filmnya menembus angka penjualan 1,5 juta. Yang pertama, karena meski menampilkan tema poligami, namun secara indah, film ini mampu menampilkan wujud poligami yang seharusnya. 

Sebab pernikahan kedua yang terjadi, bukan karena nafsu, namun karena ibadah yang harus dilakukan demi menyelamatkan nyawa manusia. Tidak seperti film-film lain yang sering memanipulasi tema poligami, sebagai bahan `kesempatan` bagi kaum pria, film ini justru menampilkan wajah poligami yang apa adanya. Putih, bersih, penuh kedamaian, meski awalnya penuh goncangan.

Hal itu diwakili kondisi perang batin Arini, yang awalnya menolak dimadu, sampai-sampai ia berucap, jika surga yang dijanjikan (karena bersedia dipoligami) mengharuskan dirinya berbagi keluarga yang selama ini bela mati-matian, maka mungkin bukan surga seperti itu yang ia rindukan. 

Alasan kedua yang membuat film ini mampu menyentuh hati banyak penonton, adalah karena sikap kepasrahan Arini, yang pada akhirnya menyadari, jika semua dikembalikan ke agama, ketika anak manusia berwujud hawa bersedia tunduk patuh pada ketentuan yang tertulis, maka menjalani poligami bukanlah sesuatu yang sulit.

Meski di bagian akhir film, sosok Arini bisa menerima kehadiran wanita lain di rumahnya, namun bukan sekonyong-konyong film ini dengan mulus menceritakan perjalanan seorang wanita yang rela dimadu. 

Karena sebelum Arini bersedia menerima Mei sebagai `adik` barunya, segala bantahan logika, derai air mata, serta sumpah serapah telah melompat dari bibir mungilnya. Bersambung.