![]() |
| Raline siap-siap `menjadi` istri kedua lagi di sekuel SYTD / FOTO: Instagram Raline. |
Ia katakan hari itu datang mewakili
Raline yang sedang berhalangan hadir. Raline sendiri, dianugerai piala kehormatan
itu karena perannya yang apik sebagai Mei, sosok istri kedua yang terjerat dilema
di film Surga yang Tak Dirindukan.
Di podium megah itu, Manoj mengucapkan selamat
kepada Raline, dan ia meminta, wanita Medan itu bersiap-siap, karena syuting film
Surga yang Tak Dirindukan 2 akan segera dimulai.
Mendengar ucapan live di televisi itu, mungkin
banyak orang akan merasa kaget. Karena tak banyak yang tahu, semenjak film
pertamanya sukses di tahun 2015, sang produser film keturunan India itu
langsung berniat membuat sekuel.
Sumber dari dalam MD Pictures, Kamis, 7
April 2016 menjelaskan kepada Lifestyle-Bagus, bahwa kemungkinan besar film
lanjutan ini akan tayang di akhir 2016. Ia mundur dari rencana awal sang
produser, yang menargetkan bisa tayang di Lebaran 2016.
Selain Raline yang akan kembali bermain
sebagai Mei, figur wanita yang dianggap menjadi penganggu rumah tangga pria
alim bernama Pras, diperankan Fedi Nuril, aktris Laudya Cynthia Bella juga akan
kembali menempati posisinya sebagai Arini, istri pertama Pras yang baik hati.
Poligami yang indah
Ada banyak alasan mengapa film arahan
sutradara Kuntz Agus ini menuai kesuksesan besar, bahkan karcis filmnya menembus
angka penjualan 1,5 juta. Yang pertama, karena meski menampilkan tema poligami,
namun secara indah, film ini mampu menampilkan wujud poligami yang seharusnya.
Sebab pernikahan kedua yang terjadi,
bukan karena nafsu, namun karena ibadah yang harus dilakukan demi menyelamatkan
nyawa manusia. Tidak seperti film-film lain yang sering memanipulasi tema poligami,
sebagai bahan `kesempatan` bagi kaum pria, film ini justru menampilkan wajah
poligami yang apa adanya. Putih, bersih, penuh kedamaian, meski awalnya penuh
goncangan.
Hal itu diwakili kondisi perang batin Arini,
yang awalnya menolak dimadu, sampai-sampai ia berucap, jika surga yang dijanjikan
(karena bersedia dipoligami) mengharuskan dirinya berbagi keluarga yang selama
ini bela mati-matian, maka mungkin bukan surga seperti itu yang ia rindukan.
Alasan kedua yang membuat film ini mampu
menyentuh hati banyak penonton, adalah karena sikap kepasrahan Arini, yang pada
akhirnya menyadari, jika semua dikembalikan ke agama, ketika anak manusia
berwujud hawa bersedia tunduk patuh pada ketentuan yang tertulis, maka
menjalani poligami bukanlah sesuatu yang sulit.
Meski di bagian akhir film, sosok Arini bisa
menerima kehadiran wanita lain di rumahnya, namun bukan sekonyong-konyong film
ini dengan mulus menceritakan perjalanan seorang wanita yang rela dimadu.
Karena sebelum Arini bersedia menerima Mei
sebagai `adik` barunya, segala bantahan logika, derai air mata, serta sumpah
serapah telah melompat dari bibir mungilnya. Bersambung.
