Sunday, April 10, 2016

Cincin Emas Putih untuk Ibu Direktur (Part 1)



Entertainment-Bagus : Senin yang ditunggu akhirnya datang. Yup, tepat hari ini adalah hari kerja pertamaku. Buah hasil kuliah empat tahun di jurusan Public Relation (PR) di sebuah kampus ternama di Jakarta, akan terbayar hari ini.

Akhirnya aku resmi diterima menjadi junior PR di sebuah perusahan televisi berbayar bergengsi di Indonesia. Bagaimana tak bangga, kantornya saja ada di wilayah elite Sudirman, Jakarta. Sesuatu yang pastinya akan membuat banyak teman kampusku iri (baca:keki) dibuatnya.

Dengan semangat 45, aku sengaja bangun jam lima pagi. Mandi, rapi-rapi, sarapan, dan segera menunggangi Jeri membelah kemacetan ibukota, yang perlahan mulai tampak di jalan-jalan utama. 

Buat yang belum berkenalan dengan Jeri, ia adalah motor Honda Blade yang baru lima bulan lalu aku beli. Hadiah dari bunda karena sukses menggondol sripsi dengan nilai A. 

Sebuah perstasi yang cukup membanggakan, mengingat semasa kuliah, aku banyak tenggelam dengan segala aktivitas organisasi kampus, dapat nilai A ibarat mendapat durian runtuh. 

O ya, namaku Satrio, namun teman-teman lebih sering memanggilku Rio, umur 22 tahun dan sangat gemar bermain musik. Saat kuliah sempat membuat band bersama teman kampus, bahkan beberapa kali kami sempat manggung di kafe Jakarta dan Bandung. Namun band kami bubar jalan saat masing-masing personil, memasuki tingkat akhir, sibuk mengerjakan skripsi.

Kini, hari yang dinanti itu tiba, aku resmi bekerja di sebuah company bergengsi dengan posisi kerja yang sesuai dengan jurusan kuliah. Hal ini pasti membanggakan bunda, semoga saja. Karena sejak ayah tiada, rasanya aku memang ingin cepat-cepat bekerja untuk meringan beban keluarga.

Anak kemarin sore di kantor baru

Empat puluh menit berkendara, akhirnya aku sampai di gedung Cyberspace, tempat perusahaan televisi berbayar itu berada. Konon perusahan ini telah berdiri selama 16 tahun, dan meski kompetitor TV kabel bermunculan, namun nama Cyberspace sebagai merek dagang yang kuat, tak tergoyahkan. Makanya, bisa bekerja di tempat ini, sebuah berkah untuk anak kemarin sore seperti diriku.

Setelah selesai melapor ke HRD, bahwa hari ini aku siap bekerja, aku diberikan ID card sebagai akses keluar-masuk kantor yang kebanyakan pintinya sudah berbasis teknologi. Yup, pintu-pintu ini tak akan terbuka-tutup tanpa kartu elektronik tersebut.

Setelahnya, hal pertama yang harus dilakukan, adalah bertemu Pak Irfan sang manajer PR, alias atasanku langsung. Kami sebelumnya sudah pernah bertemu satu kali, saat sesi wawancara berlangsung. 

Menurutku, orang ini cukup ramah, tipikal atasan yang dapat aku jadikan guru, untuk belajar banyak tentang dunia kehumasan secara praktik, tak hanya teori seperti yang aku dapat di bangku kuliah. 

“Rio, selamat datang. Selamat bergabung dengan divisi PR Cyberspace. Keseluruhan tim kita ada lima orang. Dua sudah PR senior, dan sisanya masih junior sama seperi kamu. Nanti akan saya kenalkan pada mereka, setelah itu, saya bawa kamu ke ruangan Ibu Shinta. Dia Direktur Komunikasi kita di kantor ini,” kata pria bertubuh gempal itu. “Siap pak,” demikian sergahku cepat.

Setelah itu kami berdua keluar dari ruang kerja Pak Irfan, ia lalu menunjukkan di mana tempat meja kerjaku, sekalian memperkenalan pada teman-teman PR lain yang akan menjadi tim kerjaku. Sekilas berkenalan dengan mereka, tim ini terlihat ramah dan banyak melempar senyum. 

Ha ha, tentu saja. Jangan jadi PR jika tidak mudah tersenyum. Karena sejak di bangku kuliah, kami diajarkan untuk mengingat, bahwa bahasa paling universal di dunia ini adalah tersenyum. 

Dengannya, orang yang datang dari dua negara berbeda, membawa bahasa yang sulit untuk dimengerti, namun dengan tersenyum, masing-masing akan paham, bahwa orang di depannya menerima kehadiran dirinya dengan baik.

Acara ramah-tamah dengan tim kerja selesai, kini tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah bertemu dengan ibu direktur. Wah, kok jadi deg-degan begini ya? Mungkin karena orang yang akan aku temui ini, adalah pimpinan tertinggi di divisiku. 

Mmm…jadi membayangkan, kira-kira seperti apa ya wujud Ibu Shinta ini. Jangan-jangan, ia memiliki tampang killer, seperti dosen-dosen wanita di kampusku dulu. Ah, positif thinking…harus positif thinking. 

Pertemuan pertama kami

Pak Irfan mengetuk pintu ruang kerja sang ibu direktur. Dari luar saja, sudah terlihat betapa besar dan mewah ruangan itu. Berbeda dengan pintu ruang kerja manajerku, pintu ruang kerja ibu Shinta terbuat dari bahan kayu yang lebih solid dengan warna lebih gelap. Mungkin ini pintu khusus untuk para direktur, demikian gumamku.

Setelah ada jawaban dipersilahkan masuk, Pak Irfan membuka pintu dan kami segera masuk. Begitu kaki pertama ku melangkah di ruangan itu, hawa dingin langsung menyergap. 

Meski secara keseluruhan, kantorku memakai pendingin ruangan, namun entah mengapa, suasana dingin di ruang kerja ibu direktur terasa lebih adem, atau ini jangan-jangan memang suhu tubuhku saja yang mendadak drop, gugup mau bertemu ibu direktur?

Ya maklumlah, ini adalah pengalaman kerja pertamaku. Aku ingin segalanya lancar,  sementara orang yang berada di depannku, adalah pimpinan tertinggi. Aku ingin impresi pertama yang aku tunjukkan kepadanya baik.

Saat kami memasuki ruang kerjanya, bu Shinta sedang berada dalam posisi membelakangi kami. Ia rupanya sedang menerima telepon, dan kursi kerjanya diarahkan menghadap jendela yang memiliki view pemandangan keren jalan Sudirman, Jakarta. Lantai tempat divisi kami berada di lantai 17, jadi bisa terbayang kan, betapa indah pemandangan ibukota dari jendela itu?

Dari jarak sekitar dua meter dari meja kerjanya, aku mendengar pembicaraan sang ibu direktur yang menggunakan bahasa Inggris. Ia tampak sedang berbincang dengan seseorang yang dekat dengannya. 

Tak bermaksud menguping, namun dalam bahas asing bisa aku bisa mendengar, mereka sedang membicaralan tentang rencana makan malam di sebuah restoran mewah di Grand Indonesia.

“Yes honey, see you tonight…,” ujarnya. Setelah pembicaraan selesai, ponsel dimatikan dan ibu direktur membalikkan kursi putarnya ke arah kami. Di momen itu jantungku serasa mau copot. Semua bayanganku tentang gambaran ibu direktur yang tua dan galak, mendadak sirna.

Wanita yang duduk di depanku masih muda, bahkan kalau boleh main tebak-tebakan, aku yakin usianya hanya terpaut beberapa tahun saja di atasku. 

Tak hanya muda, wajahnya juga sangat cantik, mirip aktris-aktris mandarin yang filmnya sering aku ikuti. Bahkan sekilas memandangnya, aku langsung teringat wajah molek Fan Bingbing, bintang film Asia yang poster besarnya menghias dinding kamarku. 

Memakai blaser abu-abu, wanita yang memiliki rambut hitam panjang sebahu itu menatapku. Matanya tegas, namun tetap teduh memancarkan sisi kelembutan seorang hawa. 

Diam-diam aku menelan ludah, tubuhku mendadak salah tingkah, tak tahu harus berbuat apa. Di momen itu, otakku serasa beku. Aku benar-benar terdiam kala diam. 

Pak Irfan coba memecah suasana dengan berkata, “Selamat pagi Ibu, perkenalkan ini Rio. Hari ini dia bergabung bersama tim saya di PR.” Wanita itu masih terus memandangiku, bibirnya yang tipis bergincu merah lalu membentuk guratan senyum. 

Ia tampak aneh melihatku yang terus membisu. Sementara dalam hati, aku terus membatin, ya Tuhan aku `bertemu` Fan Bingbing, bintang film yang selama ini aku idolakan. Apa yang harus aku lakukan? 

“Halo Rio, selamat bergabung. Saya Shinta,” demikian wanita berparas ayu itu bertutur lembut, sambil menjulurkan tangan. Melihat hal itu, otak bodohku yang beku segera tersentak. Buru-buru aku memberi tangan kananku untuk menyambut ajakan berkenalannya.

Senyumnya perlahan berubah menjadi tawa kecil, saat tangan kami saling bersentuhan. Tampaknya ia bisa membaca gerak-gerik tubuhku yang grogi, apalagi saat itu aku bisa merasakan, uluran tanganku sedikit bergetar. Oh, aku sungguh tak dapat mengontrol tubuhku. Semoga rasa gugup ini segera berlalu. 

Bersambung…