Entertainment-Bagus : Senin yang ditunggu akhirnya datang. Yup, tepat hari ini adalah hari kerja pertamaku. Buah hasil kuliah empat tahun di jurusan Public Relation (PR) di sebuah kampus ternama di Jakarta, akan terbayar hari ini.
Akhirnya aku resmi diterima menjadi
junior PR di sebuah perusahan televisi berbayar bergengsi di Indonesia.
Bagaimana tak bangga, kantornya saja ada di wilayah elite Sudirman, Jakarta. Sesuatu
yang pastinya akan membuat banyak teman kampusku iri (baca:keki) dibuatnya.
Dengan semangat 45, aku sengaja bangun jam
lima pagi. Mandi, rapi-rapi, sarapan, dan segera menunggangi Jeri membelah
kemacetan ibukota, yang perlahan mulai tampak di jalan-jalan utama.
Buat yang belum berkenalan dengan Jeri,
ia adalah motor Honda Blade yang baru lima bulan lalu aku beli. Hadiah dari
bunda karena sukses menggondol sripsi dengan nilai A.
Sebuah perstasi yang cukup membanggakan,
mengingat semasa kuliah, aku banyak tenggelam dengan segala aktivitas organisasi
kampus, dapat nilai A ibarat mendapat durian runtuh.
O ya, namaku Satrio, namun teman-teman
lebih sering memanggilku Rio, umur 22 tahun dan sangat gemar bermain musik. Saat
kuliah sempat membuat band bersama teman kampus, bahkan beberapa kali kami
sempat manggung di kafe Jakarta dan Bandung. Namun band kami bubar jalan saat
masing-masing personil, memasuki tingkat akhir, sibuk mengerjakan skripsi.
Kini, hari yang dinanti itu tiba, aku resmi
bekerja di sebuah company bergengsi dengan posisi kerja yang sesuai dengan jurusan
kuliah. Hal ini pasti membanggakan bunda, semoga saja. Karena sejak ayah tiada,
rasanya aku memang ingin cepat-cepat bekerja untuk meringan beban keluarga.
Anak kemarin sore di kantor baru
Empat puluh menit berkendara, akhirnya
aku sampai di gedung Cyberspace, tempat perusahaan televisi berbayar itu
berada. Konon perusahan ini telah berdiri selama 16 tahun, dan meski kompetitor
TV kabel bermunculan, namun nama Cyberspace sebagai merek dagang yang kuat, tak
tergoyahkan. Makanya, bisa bekerja di tempat ini, sebuah berkah untuk anak
kemarin sore seperti diriku.
Setelah selesai melapor ke HRD, bahwa
hari ini aku siap bekerja, aku diberikan ID card sebagai akses keluar-masuk kantor
yang kebanyakan pintinya sudah berbasis teknologi. Yup, pintu-pintu ini tak akan
terbuka-tutup tanpa kartu elektronik tersebut.
Setelahnya, hal pertama yang harus dilakukan,
adalah bertemu Pak Irfan sang manajer PR, alias atasanku langsung. Kami
sebelumnya sudah pernah bertemu satu kali, saat sesi wawancara berlangsung.
Menurutku, orang ini cukup ramah,
tipikal atasan yang dapat aku jadikan guru, untuk belajar banyak tentang dunia
kehumasan secara praktik, tak hanya teori seperti yang aku dapat di bangku
kuliah.
“Rio, selamat datang. Selamat bergabung
dengan divisi PR Cyberspace. Keseluruhan tim kita ada lima orang. Dua sudah PR
senior, dan sisanya masih junior sama seperi kamu. Nanti akan saya kenalkan pada
mereka, setelah itu, saya bawa kamu ke ruangan Ibu Shinta. Dia Direktur Komunikasi
kita di kantor ini,” kata pria bertubuh gempal itu. “Siap pak,” demikian
sergahku cepat.
Setelah itu kami berdua keluar dari
ruang kerja Pak Irfan, ia lalu menunjukkan di mana tempat meja kerjaku, sekalian
memperkenalan pada teman-teman PR lain yang akan menjadi tim kerjaku. Sekilas berkenalan
dengan mereka, tim ini terlihat ramah dan banyak melempar senyum.
Ha ha, tentu saja. Jangan jadi PR jika tidak
mudah tersenyum. Karena sejak di bangku kuliah, kami diajarkan untuk mengingat,
bahwa bahasa paling universal di dunia ini adalah tersenyum.
Dengannya, orang yang datang dari dua
negara berbeda, membawa bahasa yang sulit untuk dimengerti, namun dengan tersenyum,
masing-masing akan paham, bahwa orang di depannya menerima kehadiran dirinya dengan
baik.
Acara ramah-tamah dengan tim kerja selesai,
kini tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah bertemu dengan ibu direktur.
Wah, kok jadi deg-degan begini ya? Mungkin karena orang yang akan aku temui
ini, adalah pimpinan tertinggi di divisiku.
Mmm…jadi membayangkan, kira-kira seperti
apa ya wujud Ibu Shinta ini. Jangan-jangan, ia memiliki tampang killer, seperti
dosen-dosen wanita di kampusku dulu. Ah, positif thinking…harus positif thinking.
Pertemuan pertama kami
Pak Irfan mengetuk pintu ruang kerja sang
ibu direktur. Dari luar saja, sudah terlihat betapa besar dan mewah ruangan
itu. Berbeda dengan pintu ruang kerja manajerku, pintu ruang kerja ibu Shinta
terbuat dari bahan kayu yang lebih solid dengan warna lebih gelap. Mungkin ini pintu
khusus untuk para direktur, demikian gumamku.
Setelah ada jawaban dipersilahkan masuk,
Pak Irfan membuka pintu dan kami segera masuk. Begitu kaki pertama ku melangkah
di ruangan itu, hawa dingin langsung menyergap.
Meski secara keseluruhan, kantorku
memakai pendingin ruangan, namun entah mengapa, suasana dingin di ruang kerja ibu
direktur terasa lebih adem, atau ini jangan-jangan memang suhu tubuhku saja
yang mendadak drop, gugup mau bertemu ibu direktur?
Ya maklumlah, ini adalah pengalaman
kerja pertamaku. Aku ingin segalanya lancar, sementara orang yang berada di depannku, adalah
pimpinan tertinggi. Aku ingin impresi pertama yang aku tunjukkan kepadanya baik.
Saat kami memasuki ruang kerjanya, bu Shinta
sedang berada dalam posisi membelakangi kami. Ia rupanya sedang menerima
telepon, dan kursi kerjanya diarahkan menghadap jendela yang memiliki view
pemandangan keren jalan Sudirman, Jakarta. Lantai tempat divisi kami berada di
lantai 17, jadi bisa terbayang kan, betapa indah pemandangan ibukota dari
jendela itu?
Dari jarak sekitar dua meter dari meja
kerjanya, aku mendengar pembicaraan sang ibu direktur yang menggunakan bahasa Inggris.
Ia tampak sedang berbincang dengan seseorang yang dekat dengannya.
Tak bermaksud menguping, namun dalam
bahas asing bisa aku bisa mendengar, mereka sedang membicaralan tentang rencana
makan malam di sebuah restoran mewah di Grand Indonesia.
“Yes honey, see you tonight…,” ujarnya. Setelah
pembicaraan selesai, ponsel dimatikan dan ibu direktur membalikkan kursi putarnya
ke arah kami. Di momen itu jantungku serasa mau copot. Semua bayanganku tentang
gambaran ibu direktur yang tua dan galak, mendadak sirna.
Wanita yang duduk di depanku masih muda,
bahkan kalau boleh main tebak-tebakan, aku yakin usianya hanya terpaut beberapa
tahun saja di atasku.
Tak hanya muda, wajahnya juga sangat
cantik, mirip aktris-aktris mandarin yang filmnya sering aku ikuti. Bahkan
sekilas memandangnya, aku langsung teringat wajah molek Fan Bingbing, bintang film
Asia yang poster besarnya menghias dinding kamarku.
Memakai blaser abu-abu, wanita yang
memiliki rambut hitam panjang sebahu itu menatapku. Matanya tegas, namun tetap teduh
memancarkan sisi kelembutan seorang hawa.
Diam-diam aku menelan ludah, tubuhku mendadak
salah tingkah, tak tahu harus berbuat apa. Di momen itu, otakku serasa beku. Aku
benar-benar terdiam kala diam.
Pak Irfan coba memecah suasana dengan
berkata, “Selamat pagi Ibu, perkenalkan ini Rio. Hari ini dia bergabung bersama
tim saya di PR.” Wanita itu masih terus memandangiku, bibirnya yang tipis bergincu
merah lalu membentuk guratan senyum.
Ia tampak aneh melihatku yang terus membisu.
Sementara dalam hati, aku terus membatin, ya Tuhan aku `bertemu` Fan Bingbing, bintang
film yang selama ini aku idolakan. Apa yang harus aku lakukan?
“Halo Rio, selamat bergabung. Saya
Shinta,” demikian wanita berparas ayu itu bertutur lembut, sambil menjulurkan
tangan. Melihat hal itu, otak bodohku yang beku segera tersentak. Buru-buru aku
memberi tangan kananku untuk menyambut ajakan berkenalannya.
Senyumnya perlahan berubah menjadi tawa
kecil, saat tangan kami saling bersentuhan. Tampaknya ia bisa membaca gerak-gerik
tubuhku yang grogi, apalagi saat itu aku bisa merasakan, uluran tanganku sedikit
bergetar. Oh, aku sungguh tak dapat mengontrol tubuhku. Semoga rasa gugup ini
segera berlalu.
Bersambung…
